MAKALAH
TAFSIR
“AYAT-AYAT TENTANG ALAM”
KATA
PENGANTAR
Assalamualaikum
wr. wb.
Puji syukur kehadirat ALLAH SWT karena berkah dan rahmat-Nya kami
dapat menyelesaikan tugas makalah mata kuliah tafsir ini dengan topik ayat-ayat
tentang alam. Makalah ini dibuat sehubungan dengan tugas yang diberikan
dosen kami bpk. Dr. Firdaus untuk memenuhi nilai mata kuliah tafsir. Dengan
diselesaikannya tugas makalah ini,kami harapkan dapat memenuhi syarat penilaian
tugas dan berguna untuk para pembacanya.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penulis
mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun demi perbaikan pembuatan
makalah di kemudian hari. Semoga makalah ini dapat memberi manfaat bagi para
pembaca. Amin
Wassalamualaikum
wr.wb
Penyusun
DAFTAR ISI
Kata
Pengantar…………………………………………………………………
Daftar
Isi………………………………………………………………………..
BAB
I. Pendahuluan
I.1. Latar Belakang……………………………………………………..1
I.2. Rumusan Masalah………………………………………………….1
I.3. Tujuan………………………………………………………………2
BAB
II. Pembahasan ……………………………………………………….…..3
BAB
III. Penutup……………………………………………. ……………….16
Daftar Pustaka ……………………………………………. ……………………17
BAB
I
PENDAHULUAN
I.1.
Latar Belakang
Alam semesta merupakan suatu ruang atau tempat bagi manusia,
tumbuh-tumbuhan, hewan, dan benda-benda lainnya. Langit sebagai atapnya dan
bumi sebagainya lantainya. Jadi, alam semesta atau jagat raya adalah satu ruang
yang maha besar, terdapat kehidupan yang biotik dan abiotik. Tuhan menciptakan
bermacam-macam makhluk, tetapi yang paling
istimewa dan sempurna yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya
adalah akal, agar manusia dapat membedakan baik atau buruknya sesuatu.
Akan tetapi yang menjadi pembicaraan sekarang ini adalah bagaimana proses
terjadinya alam semesta? Para ahli sudah banyak yang mengeluarkan pendapat
tentang proses terjadinya alam tersebut, dan bahkan mereka rela mengorbankan
nyawanya demi mempertahankan argumennya, dan bahkan sampai saat ini masih belum
ada yang mengetahui betul tetang proses terbentuknya alam semesta ini. Kita
sebagai Muslim tentunya sudah tidak meragukan lagi tentang alam semesta karena
meyakini apa yang disebutkan dalam Al- Qur’an adalah benar, salah satunya yaitu
tentang proses tentang terjadinya alam semesta.
Al-Qur’an merupakan sumber dari
segala ilmu. Di dalam al-Qur’an disebutkan kejadian tentang alam semesta dan
kejadian-kejadian lainnya. Alam semesta merupakan salah satu bukti kebesaran
Tuhan. Tuhan telah menciptakan alam semesta beserta isinya untuk manusia
sebagai khilafah dibumi dan telah menyatakan tentang penciptaan alam semesta
dalam ayat-ayatNya. Meskipun demikian, al-Qur’an bukan buku kosmologi atau
biologi, sebab ia hanya menyatakan bagian-bagian yang sangat penting dari saja
dari ilmu-ilmu yang dimaksud.
Keingintahuan manusia tentang alam
semesta tidak hanya membaca al-Qur’an saja, akan tetapi melakukan perrintah
Tuhan. Sehingga ia menemukan kebenaran yang dapat dipergunakan dalam pemahaman
serta penafsiran al-Qur’an.
I.2.
Rumusan Masalah
Rumusan masalah
dibuatnya makalah ini adalah:
a)
Apa sajakah ayat-ayat tentang alam?
b)
Apa tafsir dari ayat-ayat tentang alam?
c)
Apa penjelasan dari ayat-ayat tentang
alam?
I.3.
Tujuan
Tujuan dibuatnya makalah ini adalah:
a)
Untuk mengetahui ayat-ayat tentang alam
b)
Untuk mengetahui tafsir dari ayat-ayat
tentang alam
c)
Untuk mengetahui penjelasan dari
ayat-ayat tentang alam
BAB
II
PEMBAHASAN
QS.
al-Baqarah (2) ; 29
Terjemahan
: “Dia-lah (Allah) yang
Menciptakan segala apa yang ada di bumi untukmu kemudian Dia Menuju ke langit,
lalu Dia Menyempurnakannya menjadi tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala
sesuatu”
Tafsir
:
·
Huwal ladzī khalaqa lakum (Dia-lah yang
telah Menciptakan untuk kalian), yakni Menundukkan untuk kalian.
·Mā
fil ardli (yang ada di bumi), yakni hewan, tumbuh-tumbuhan, dan lain
sebagainya.
·Jamī‘ā
(seluruhnya) merupakan kenikmatan dari-Nya.
·Tsummastawā
ilas samā-i (kemudian Dia Menuju ke langit), yakni kemudian Dia bermaksud
Menciptakan langit.
·Fa
sawwāhunna (lalu Dia Menyempurnakannya), yakni Menjadikannya.
·Sab‘a
samāwāt (menjadi tujuh langit) yang kukuh di atas bumi.
·Wa
huwa bi kulli syai-in ‘alīm (dan Dia Maha Mengetahui atas segala sesuatu),
termasuk menciptakan langit dan bumi.
·Selanjutnya
Allah Ta‘ala Menuturkan kisah para malaikat yang diperintahkan bersujud kepada
Adam a.s.
QS.
al-Mulk (67) ; 1-4
Terjemahan
: “Maha Suci Allah yang
Menguasai (segala) kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu... Yang
Menciptakan mati dan hidup, untuk Menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih
baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun... Yang Menciptakan tujuh
langit berlapis-lapis. Tidak akan kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang pada
ciptaan Tuhan Yang Maha Pengasih. Maka lihatlah sekali lagi, adakah kamu lihat
sesuatu yang cacat?.. Kemudian ulangi pandangan(mu) sekali lagi (dan) sekali
lagi, niscaya pandanganmu akan kembali kepadamu tanpa menemukan cacat dan ia
(pandanganmu) dalam keadaan letih.”
Tafsir
:
·
Maha Suci (Allah) yang di Tangan-Nya-lah
segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu,
·Tabāraka
(Maha Suci) pemilik berkah. Menurut yang lain, Maha Tinggi, Maha Agung, Maha
Suci, Maha Luhur, dan Maha Bersih dari memiliki anak dan sekutu.
·Alladzī
bi yadihil mulku ([Allah] Yang di Tangan-Nya-lah segala kerajaan), yakni Dia
Menguasai kemuliaan dan kerendahan, serta perbendaharaan segala sesuatu.
·Wa
h uwa ‘alā kulli syai-ing qadīr (dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu),
termasuk kemuliaan dan kerendahan.
·
·
Yang telah menciptakan mati dan hidup
untuk menguji kalian, siapa-kah di antara kalian yang paling baik amalnya. Dan
Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun,
·Alladzī
khalaqal mauta (yang telah menciptakan mati) yang diserupakan dengan kambing
berwarna hitam putih. Tak ada satu makhluk hidup pun yang dilewatinya, mencium
baunya, atau diinjaknya, melainkan ia akan mati saat itu juga.
·Wal
hayāta (dan hidup), yakni Dia telah Menciptakan hidup yang diserupakan dengan
kuda betina berwarna belang hitam-putih. Tak ada sesuatu pun yang dilewatinya,
mencium baunya, diinjaknya, atau dilempar oleh jejak kakinya, melainkan sesuatu
itu akan hidup. Kuda tersebut lebih tinggi daripada bagal dan lebih pendek
daripada keledai, langkahnya sejauh mata memandang dan suka ditunggangi para
nabi. Menurut satu pendapat, khalaqal mauta (telah mencip-takan mati), yakni
nutfah; wal hayāta (dan hidup), yakni makhluk hidup. Dan ada pula yang
berpendapat, yang telah menciptakan hidup dan mati. Menda-hulukan kata hidup
dan mengakhirkan kata mati.
·Li
yabluwakum (untuk menguji kalian), yakni untuk menguji kalian di antara hidup
dan mati itu.
·Ayyukum
ahsanu ‘amalā (siapakah di antara kalian yang paling baik amalnya), yakni yang
paling ikhlas amalnya.
·Wa
huwal ‘azīzu (dan Dia Maha Perkasa) menimpakan siksaan kepada siapa pun yang
tidak beriman kepada-Nya.
·Al-ghafūr
(lagi Maha Pengampun) kepada orang-orang yang bertobat serta beriman
kepada-Nya.
·
·
Yang telah menciptakan tujuh langit
berlapis-lapis. Tiadalah kamu melihat pada Ciptaan (Allah) Yang Maha Pengasih
sesuatu yang tidak seimbang. Kemudian lihatlah kembali, adakah kamu melihat
sesuatu yang retak?
·Alladzī
khalaqa sab‘a samāwātiη thibāqan (yang telah menciptakan tujuh langit
berlapis-lapis), yakni bersusun, yang satu di atas yang lainnya, seperti kubah
yang ujung-ujungnya saling melekat.
·Mā
tarā (tiadalah kamu melihat) hai Muhammad!
·Fī
khalqir rahmāni (pada Ciptaan [Allah] Yang Maha Pengasih), yakni pada
penciptaan langit itu.
·Miη
tafāwut (sesuatu yang tidak seimbang), yakni sesuatu yang bengkok.
·Far
ji‘il bashara (kemudian lihatlah kembali), yakni arahkanlah pandangan ke
langit.
·Hal
tarā miη futhūr (adakah kamu melihat sesuatu yang retak), yakni sesuatu yang
belah, pecah, cacat, dan rusak.
·
·
Kemudian lihatlah sekali lagi, niscaya
penglihatan itu akan kembali ke padamu dalam keadaan tertunduk, dan
penglihatanmu menjadi lemah.
·Tsummarji‘il
bashara (kemudian lihatlah), yakni arahkanlah penglihatanmu ke langit dan
renungkanlah seraya menatapnya.
·Karrataini
yangqalib ‘ilalikal basharu khāsi-an (sekali lagi, niscaya penglihatan itu akan
kembali kepadamu dalam keadaan tertunduk), yakni dalam keadaan merasa kecil dan
rendah sebelum dapat melihat sesuatu.
·Wa
huwa hasīr (dan penglihatanmu menjadi lemah), yakni menjadi letih dan terhenti.
QS.
al –A’raf (7) ; 54
Terjemahan
: “Sungguh, Tuhan-mu
(adalah) Allah yang Menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia
Bersemayam di atas Arasy.** Dia Menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya
dengan cepat. (Dia Ciptakan) matahari, bulan dan bintang-bintang tunduk kepada
perintah-Nya. Ingatlah! Segala penciptaan dan urusan menjadi hak-Nya. Maha Suci
Allah, Tuhan seluruh alam.”
Tafsir
:
·
Sesungguhnya Rabb kalian adalah Allah
yang telah Menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, kemudian Dia Bersemayam
di atas Arasy. Dia menutupkan malam pada siang yang mengikutinya dengan cepat.
Dan matahari, bulan, serta bintang-bintang ditundukkan dengan Perintah-Nya.
Ketahuilah, menciptakan dan memerintah itu hanyalah Wewenang Allah. Maha Berkah
Allah, Rabb semesta alam.
·Inna
rabbakumullāhul ladzī khalaqas samāwāti wal ardla fī sittati ayyāmin
(sesungguhnya Rabb kalian adalah Allah yang telah Menciptakan langit dan bumi
dalam enam hari), yakni enam hari di antara hari-hari dunia yang satu harinya
lebih lama dari seribu tahun.
·Tsummastawā
‘alal ‘arsy (kemudian Dia Bersemayam di atas Arasy), yakni kemudian Dia
Menciptakan Arasy. Menurut pendapat yang lain, kemudian Dia Menempati Arasy.
·Yugh-syil
lailan nahāra (Dia Menutupkan malam pada siang), yakni Menyelimutkan malam pada
siang dan menyelimutkan siang pada malam.
·Yathlubuhū
(yang mengikutinya), yakni malam mengikuti siang, dan siang mengikuti malam.
·Hatsī-tsan
(dengan cepat), yakni datang dan pergi dengan cepat.
·Wasy
syamsa (dan matahari), yakni Dia Menciptakan matahari.
·Wal
qamara wan nujūma musakh-kharātim bi amrihī (bulan, serta bintang-bintang
ditundukkan dengan Perintah-Nya), yakni dengan Izin-Nya.
·Alā
lahul khalqu (ketahuilah, menciptakan itu hanyalah Wewenang Allah), yakni
menciptakan langit dan bumi.
·Wal
amr (dan memerintah), yakni menjadi hakim di antara para hamba pada hari
kiamat.
·Tabārakallāhu
(Maha Berkah Allah), yakni Allah-lah Pemilik berkah. Menurut pendapat yang
lain, Maha Luhur Allah. Dan menurut pendapat lainnya, Maha Suci Allah.
·Rabbul
‘ālamīn (Rabb semesta alam), yakni Tuhan yang mengatur semesta alam.
Penjelasan :
QS.
Ali Imran (3) ; 190
Terjemahan
: “Sesungguhnya dalam
penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda
(kebesaran Allah) bagi orang yang berakal”
Tafsir
:
·
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan
bumi serta silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi
orang-orang yang berakal.
·Inna
fī khalqis samāwāti (sesungguhnya dalam penciptaan langit), yakni sesungguhnya
dalam penciptaan segala makhluk yang ada di langit, yaitu malaikat, matahari,
bulan, bintang, dan awan.
·Wal
ardli (dan bumi), yakni dan dalam penciptaan bumi beserta segala sesuatu yang
ada padanya berupa gunung, lautan, pepohonan, dan hewan.
·Wakh
tilāfil laili wan nahāri (serta silih bergantinya malam dan siang), yakni dan
juga dalam pertukaran malam dan siang.
·La
āyātin (terdapat tanda-tanda), yakni terdapat tanda-tanda yang menunjukkan
Keesaan-Nya.
·Li
ulil albāb (bagi orang-orang yang berakal), yakni bagi manusia yang memiliki
pikiran. Kemudian Allah Ta‘ala Mengemukakan sifat-sifat orang yang berakal
dengan Firman-Nya.
QS.
Ibrahim (14) ; 32-34
Terjemahan
: “Allah-lah yang telah
Menciptakan langit dan bumi dan Menurunkan air (hujan) dari langit, kemudian
dengan (air hujan) itu Dia Mengeluarkan berbagai buah-buahan sebagai rezeki
untukmu; dan Dia telah Menundukkan kapal bagimu agar berlayar di lautan dengan
Kehendak-Nya, dan Dia telah Menundukkan sungai-sungai bagimu… Dan Dia telah
Menundukkan matahari dan bulan bagimu yang terus-menerus beredar (dalam
orbitnya); dan telah menundukkan malam dan siang bagimu… Dan Dia telah
Memberikan kepadamu segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu
menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh,
manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)…”
Tafsir
:
·
Allah-lah yang telah Menciptakan langit
dan bumi serta menurunkan air dari langit, lalu Dia Mengeluarkan dengannya
berbagai buah-buahan sebagai rezeki bagi kalian. Dan Dia telah Menundukkan
kapal untuk kalian supaya ia bisa berlayar di lautan dengan Perintah-Nya, dan
Dia pun telah Menundukkan sungai-sungai untuk kalian.
·Allāhul
ladzī khalaqas samāwāti wal ardla wa aηzala minas samā-i mā-an (Allah-lah yang
telah Menciptakan langit dan bumi serta menurunkan air dari langit), yakni air
hujan.
·Fa
akhraja bihī (lalu Dia Mengeluarkan dengannya), yakni lalu dengan air hujan itu
Dia Menumbuhkan.
·Minats
tsamarāti (berbagai buah-buahan), yakni buah-buahan yang beraneka warna.
·Rizqal
lakum (sebagai rezeki bagi kalian), yakni menjadi makanan untuk kalian dan
seluruh makhluk.
·Wa
sakh-khara lakumul fulka (dan Dia telah Menundukkan kapal untuk kalian), yakni
perahu-perahu.
·Li
tajriya (supaya ia bisa berlayar), yakni supaya kapal itu bisa berlayar.
·Fil
bahri bi amrihī (di lautan dengan Perintah-Nya), yakni dengan izin dan
Kehendak-Nya.
·Wa
sakh-khara lakumul anhār (dan Dia pun telah Menundukkan sungai-sungai untuk
kalian), sehingga kalian bisa berlayar ke mana pun kalian mau.
·
·
Dan Dia telah Menundukkan bagi kalian
matahari dan bulan terus-menerus beredar (pada orbitnya), dan juga telah
Menundukkan bagi kalian malam dan siang.
·Wa
sakh-khara lakumusy syamsa wal qamara dā-ibaini (dan Dia telah Menundukkan bagi
kalian matahari dan bulan terus-menerus beredar [pada orbitnya]) sampai hari
kiamat.
·Wa
sakh-khara lakumul laila wan nahār (dan juga telah Menundukkan bagi kalian
malam dan siang), yakni datang dan pergi silih berganti.
·
·
Dan Dia telah Memberikan kepada kalian
segala apa yang kalian mohon dari-Nya. Dan jika kalian menghitung-hitung Nikmat
Allah, niscaya kalian tidak akan dapat menghitungnya. Sesungguhnya manusia
benar-benar sangat zalim lagi sangat kafir.
·Wa
ātākum (dan Dia telah Memberikan kepada kalian), yakni telah mengaruniakan
kepada kalian.
·Ming
kulli mā sa-altumūh (segala apa yang kalian mohon dari-Nya) dan segala sesuatu
yang menurut kalian sebaiknya tidak diminta.
·Wa
iη ta‘uddū ni‘matallāhi (dan jika kalian menghitung-hitung Nikmat Allah), yakni
menghitung-hitung Karunia Allah.
·Lā
tuhshūhā (niscaya kalian tidak akan dapat menghitungnya), yakni niscaya kalian
tidak akan dapat menghapal dan mensyukuri nikmat tersebut.
·Innal
iηsāna (sesungguhnya manusia), yakni orang-orang kafir.
·La
zhalūmun (benar-benar sangat zalim), yakni sangat musyrik.
·Kaffār
(lagi sangat kafir) kepada Allah Ta‘ala dan Nikmat-Nya.
BAB
III
PENUTUP
III.1.
Kesimpulan
Allah telah menciptakan alam semesta ini dengan segala
kebesarannya, yang menguasai alam ini, mengaturnya dengan perintah-Nya
,mengendalikannya dengan kekuasaan-Nya. Dia menutupkan malam kepada siang yang
mengikutinya dengan cepat dalam putaran yang abadi ini. Yaitu, putaran malam
mengikuti siang dalam peredaran planet ini. Dia menciptakan matahari, bulan dan
bintang, yang semula tunduk kepada perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha
Pencipta dan Tuhan sekalian alam.
Alam semesta bukanlah produk dari hasil pemikiran manusia
melainkan produk dari hasil pemikiranTuhan. Berdasarkan bukti yang kongkrit dan
valid yang berupa ayat-ayat al-Qur’an seperti surat al-Baqoroh: 29, al-A’raf:
54, Ibrahim: 32-34,: 31, ali-Imran:190-194 dan al-Mulk: 1-4 serta ayat-ayat
yang lain dalam al-Qur’an.
Allah menciptakan alam semsta ini dalam keadaan yang sangat
harmonis, serasi dan memenuhi kebutuhan makhluk. Allah telah
menjadikannya baik, memerintahkan hamba-hambanya untuk memperbaikinya.
Dalam ayat ini Tuhan menerangkan dalil-dalil yang terdapat dalam cakrawala yang
menunjuk kepada kita agar mensyukuri Allah dan tetap mentaati-Nya.
III.2. Saran
Dari uraian diatas maka penulis menyadari bahwa
banyak terdapat kesalahan dan kekurangan, untuk itu pemakalah mohon kritikan
dan saran yang sifatnya konstruktif demi kesempurnaan makalah ini.
DAFTAR PUSTAKA
Toha,
Muhammad. 2009. Al-Qalam. Bandung : Diponegoro
Tidak ada komentar:
Posting Komentar